Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Tenggelam

Aku jatuh cinta diam-diam

pada orang yang sama

Rinduku membuncah diam-diam

pada orang yang sama

diam ...diam...

yang kubisa hanya diam...diam

Diam yang Membuncah

Aku tak banyak mengungkap rasa
Ketika sepasang mata diam di hadapan
Masih sama ketika putih abu-abu
Namun lebih berwarna

Aku tak banyak menebar butir mata air
Walau napas tinggal separuh jalan
kuluman menutupi harapan hambarku
Hingga kekuatan itu makin membuncah

Seiring dengan bergulirnya mimpi
Aku tak sanggup lagi untuk pejamkan mata
Karena ada wajah yang terus menggelayut menggoda

Inginkan gambar itu terusir dari kaca jendela
Namun sang bintang gemerlap makin indah sinarnya
Hingga menorehkan sayatan yang begitu dalam

Begitu mendasarnya kekuatan cinta itu
Hingga aku tak mampu meruntuhkan kelopaknya
Begitu dasyatnya hembusan rindu pilu
Hingga mengakar dalam sari putik keindahan
Haruskah kuakhiri....


Rinduku Dilarang

Berdesir menusuk tulang entah sampai kapan
dia datang dengan tiba-tiba
memagut hati, melepas benang-benang kerinduan
rindu yang membiru, yang sekian lama beku sedingin salju

Mengapa ....
Dia datang lagi
dengan membawa nyanyian di padang senja
membuai angan yang seharusnya tak bergeliat
haruskah aku urai dalam nadi-nadi pada desiran cinta

kaca-kaca bercerita di pelupuk mata
tampilan itu menggugah fatamorgana yang telah memudar
hingga muncul keterangan yang amat berpendar
syahdu nyaringnya dawai membekas dalam - dalam

akankah aku biarkan cerita itu bergelayut di tengah bahtera
atau aku bunuh saja lalu aku guyur dengan deburan kemunafikan

entahlah, saat ini aku menikmati
sejauh rinduku tidak dilarang.