Langsung ke konten utama

Postingan

Menghidupkan Kembali Marwah Hikayat melalui Petualangan Game-Based Learning di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

  Bahasa adalah cermin budaya, dan Hikayat adalah salah satu pusaka literasi Nusantara yang kaya akan nilai moral. Namun, di ruang kelas masa kini, Hikayat seringkali dianggap sebagai "momok". Murid-murid saya di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo awalnya merasa asing dengan teks klasik ini. Keluhan mereka beragam: bahasanya sulit dimengerti, alurnya dianggap tidak masuk akal, hingga rasa jenuh saat baru membaca beberapa baris kalimat. Sebagai pendidik, saya merasa memiliki tanggung jawab besar. Hikayat bukan sekadar materi ujian; ia adalah media penyampai nilai-nilai keteladanan yang relevan sepanjang masa. Tantangan utamanya adalah: bagaimana mengubah teks yang dianggap "kuno" ini menjadi materi yang memikat dan relevan bagi generasi Z? Aksi: Belajar dengan Gembira Melalui Kompetisi dan Teknologi Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, saya menerapkan metode Game-Based Learning . Strategi ini dirancang untuk mengubah suasana kelas yang kaku menjadi arena petualangan i...
Postingan terbaru

Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar: Sebuah Refleksi Mendalam

Kalimat itu terngiang, menggema dalam ruang kesadaran kita sebagai pendidik: "Hanya guru yang belajar, yang berhak mengajar." Bukan sekadar slogan pemanis bibir, melainkan sebuah fundamen esensial yang harus tertanam kuat dalam jiwa setiap insan yang memilih jalan pengabdian sebagai guru. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, mengajar adalah tentang menuntun, menginspirasi, dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi unik setiap individu. Dan fondasi dari kemampuan itu adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar. Pedagogi, seringkali direduksi menjadi sekadar metode mengajar, sesungguhnya adalah jantung dari seluruh proses pembelajaran. Ia adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana tahapan perkembangan anak berlangsung, dan bagaimana lingkungan sosio-kultural membentuk pola pikir serta karakter mereka. Seorang guru yang mengabaikan pedagogi, diibaratkan seorang nahkoda yang berlayar tanpa peta dan kompas. Ia mungkin saja bergerak, namun tanpa...
 "Panoptikum Tubuh Malam" Selasa, 3 Januari 2023 Jika saja aku Memakai satu kekuatan Dalam sekejap kau akan kuhapus Aku akan berteriak  Jangaaaan! Izinkan aku merindu dalam diam... Serpihan rindu terkadang melukai. Namun, terasa sayang jika terobati. Biar saja luka itu menganga. Agar bulan tahu  Apa arti rindu yang seutuhnya. Tetapi bulan yang kita pandang kini berkerak potongan lempeng tangis, gemintang terus menyebar  epitaf di mimpi-mimpi, begitu sunyi bergoncang menjalin tubuh-tubuh yang lain dariku; mencabut diri  dan merasukiku sekali lagi. Pantas saja, Ruang jiwa kini makin sepi. Detak pun gontai entah ikuti arus darah menuju ke labirin tak bernyawa.  Jendela itu tutup rapat-rapat. Lantai kamarku berbalik menghadap langit menirukan diriku yang becermin, kudengar ruh-ruh dinding  terpanggil memudarkan ingatanku, sederet hitungan hitam bermilyar pendulum digemakan. Gema itu makin lantang menusuk pilu Perlahan derap darah berganti nada Rindu makin ...

Memupuk Karakter bersama Serpihan Kalimat

Saat saya mengajarkan materi “Paragraf ” sempat bertanya-tanya. Media apa yang harus saya gunakan? Di kegiatan   ini murid akan menyusun beberapa kalimat yang nantinya akan menjadi sebuah paragraf padu. Selain itu murid akan mengetahui jenis- jenis paragraf.   Di akhir pembelajaran dituntut untuk bisa memproduksi paragraf yang baik. dan saya masih berangan-angan dengan apa yang harus saya persiapkan. Agar murid dengan mudah memahami materi tersebut. Sekian lama memutar otak, maka ketemulah media yang harus kubuat, yaitu kalimat-kalimat lepas dari beberapa paragraf. Saya menyiapkan beberapa paragraf, menjadi banyak kalimat. Tampilan lumayan menarik, agar murid lebih termotivasi. Kalimat-kalimat tersebut saya cetak acak, pada kertas warna-warni. Hasilnya lumayan cantik juga. Bagaimana teknis menggunakan potongan-potongan kalimat tersebut, hingga mewujudkan pembelajaran yang berhasil dan menyenangkan. Tidak hanya itu, namun juga bisa menyampaikan nilai-nilai karakter pa...

Empat Kata Ajaib Ubah Karakter Murid Lebih Baik

Oleh Alfi Faridian Jam terakhir di kelas itu sangat tidak kondusif. Kelas bagai kapal pecah. Ada yang bernyanyi-nyanyi, mendengarkan musik, bahkan ada yang tidur lelap. Salamku saat memasuki kelas tersebut hanya beberapa murid yang membalasnya. Aku hampir tak bisa menahan emosi. Namun Aku segera kontrol diri, tarik napas panjang, teringat komitmenku bahwa aku tak boleh marah ke muridku. Empati harus tetap dimunculkan. Sekali lagi kuucapkan salam dengan lebih lantang. Bergegas pandangan mata mereka tertuju padaku. Mereka saling menyalahkan, ada yang saling menertawakan, gegap gempita pun redah. Suara nada lagu pun senyap seketika. “Lho kok pada diam, kenapa?” ucapku dengan nada tenang. “Salam saya kedua kalinya kok tidak dijawab?” pintaku secara implisit. “Waalaikumsalaaaam” serentak tidak harus diberi aba-aba. Setelah itu mereka tertawa. Riuh lagi tanpa ada alasan. Di tengah riuhnya mereka ada satu siswa dengan sengaja melontarkan istilah “Cuk!”. Rupanya dia sudah terbi...

Dengan Literasi Ciptakan Generasi Unggul dan Beretika

Latar Belakang Mewujudkan generasi handal, unggul, dan berbudi adalah harapan setiap pendidik. Tidak terlalu muluk, sekurang-kurangnya generasi tersebut lebih baik dengan generasi sebelumnya. Keberhasilan mereka, kehebatan mereka, merupakan kebanggaan kita sebagai seorang pendidik. Oleh karena itu pendidik yang sukses adalah pendidik yang mampu menciptakan generasi yang lebih baik dari dirinya. Keberhasilan pendidik tentu tak mudah diwujudkan. Apalagi di zaman teknologi semakin canggih. Pergaulan, informasi apa pun yang kita inginkan dapat dengan mudah kita peroleh. Pergaulan generasi sekarang tanpa batas. Mereka bisa melakukan apa saja dengan mudah. Fasilitas serba ada. Tinggal bagaimana kita memfilter segala informasi dan kecanggihan teknologi tersebut untuk disajikan kepada generasi penerus bangsa. Agar mereka menjadi generasi yang kita mimpikan. Semua itu tanggung jawab bersama. Siapa generasi unggul yang beretika? Dialah yang mampu meneruskan cita-cita para pejuang I...

Banjir Pujian di Hari Guru Nasional

Oleh Alfi Faridian Semua media Sosial dimarakkan dengan postingan “Selamat Hari Guru”. Mulai dari Faceebook, Instagram, Line, sampai Status pribadi Whatsap isinya sama. Bermacam-macam kata indah yang tercantum pada postingan tersebut. Dalam bentuk video pun tak kalah menariknya. Aku sebagai guru bangga dibuatnya. Guru merasa tersanjung di 25 November ini. Dunia maya seakan milik semua guru. Haru biru tak terkecuali yang kurasa saat itu. Ucapan, pujian, terus mengalir dari sahabat, demikian juga murid-muridku. Tak terkecuali doa dari mereka untuk kesuksesan, kesehatan terutama dipanjatkan untukku. Bak ratu sehari yang dibanjiri puji-pujian. Hari itu terasa berbeda, ada yang istimewa. Semua berita mengabarkan sesuatu yang indah dan elegan bagi sang guru. Entah sihir apa yang menimpa masyarakat, hingga sanjungan, bukan umpatan yang diberikan kepada guru. Guru adalah insan cendekia, yang pantas menerima sanjungan tersebut. Sosok yang bisa mengubah dunia. Wahai guru! Apa ...