Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Sajak Beda Tema

Aku tak ingin bulan bundar bersinar Aku tak ingin hujan basahi peraduan Aku tak ingin nyaringnya melodi mendenting Yang ku ingin ibahmu runduk menyejuk kalbu Tatap mata tak tajam biarkan Walau putih merona hitam itu wajar Namun bibir berkata enggan bersuara Membuat aku semakin membuncahkan rasa Ketika kering air mata tak bersuara Di mana embun beningnya bergelayut redah Sesak dada entah sampai ujung waktu Tak ada kabar berikut kesudahan Satu persatu eja pikiran Melebur rasa yang tiada berbatas Pantaskah rindu berbelah Jika burung dara tak lagi di sangkarnya Narasi biru tuangkan rindu yang tak berkesudahan Ketika air laut mulai menepi tinggalkan pulau ketangguhan Jangan disalahkan jika hati ini mulai mengikis Karena cintamu sudah lagi tak bermakna Engkau putihkan semuanya Hingga rasa ini hilang tak bernoda Hanya dua hati yang bisa mengekangku untuk bertahan Berdiri pada kaki yang mulai gemeretak Tersenyum pada ...

Belum ada jawabnya (212)

Lama sudah terlalu lama menunggu arti kehidupan yang sebenarnya Ataukah aku tidak menahu bagaimana idealnya kehidupan Saat ku Tanya pada api… siapa yang harus memasak di dapur Api bersemangat “harusnya yang dipanggil ibu” Saat ku Tanya pada daun kering… siapa hendak bersihkan dirimu jika jatuh dari reranting Dengan malu lontarkan jawaban “si mbok lah” Saat ku Tanya pada akar singkong di tegal belakang rumah… siapa yang bersemangat membongkar dirimu dari timbunan tanah Wak Kamdi, jawabnya satu. Zaman yang berubah atau kesempatan yang salah Jawaban semua itu tak kutemukan kebenarannya Hingga diri lelah bertanya Peluh mengering tak berbekas Mata air mataku sudah tersumbat dalam dada Sesak terganjal seribu Tanya yang tak kunjung ada jawabnya Kubuka kamus istilah Berharap satu kata ada bermakna, sinar berharap embun menyapa Hasilnya kosong…nol… Kini dalam rintik hujan mencengkeram malam Pertanyaan itu selalu ada…dan semakin banyak tanda Tanya Masih ...

Mutiara untuk Ozan

November 2017 Braaakkkkkkkk!!!!! ……teeetttt…tetttt…. Seketika terjadi kemacetan di jalan utama lintas kota Surabaya Malang. Kerumunan pengendara dan kemacetan tak bisa dihindari. Belum ada petugas lalu lintas yang berjaga. Suasana masih sepi dan matahari masih enggan menampakkan sinarnya. Riuh memecah pagi melihat seorang ibu setengah baya tergolek tergeletak di antara kerumunan orang-orang tersebut. Bagaimana kejadiannya? Ada yang kenal ibu inikah? Siapa dia? Banyak pertanyaan yang terlontar dari mereka tapi tak satu pun yang terjawab. Semua hanya bisa panik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian berhentilah mobil Agya putih menghampiri kerumunan yang membuat macet sepanjang perjalanan itu. Seorang pemuda keluar dari mobil dan mendekati di antara kerumunan itu. Astahgfirullah… ucapnya lirih ketika dia tahu seorang ibu tergeletak tak berdaya telah menjadi korban laka lari. Tanpa berpikir panjang dihampiri ibu yang tak sadarkan diri, lalu diangkatnya menuju mobil putihny...
104 Muhammadiyahku Dapatkah kau melihat 100 tahun lebih lama Lakuan anak muda untuk umatnya yang ia perbuat Dapatkah engkau kira sederhana kerja yang dimulainya Dimulai dengan langkah bersama Dia bimbing umat dengan citanya Tarjih, tajdid cerdaskan bangsa bersahaja Zaman itu belum dilahirkan Dalam pandangan mata biru Lihatlah pemisahan antar garis air dan tanah terbentang Di bawah sana Dulu dalam cengkeraman penjajah kini mendewasa Dengan rangkaian pengalaman bahagia dan derita Sudah 104 tahun bertumbuh kini mendewasa Lihat!!!!!! Ribuan taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, juga SMK Rumah sakit panti asuhan. Dan kini ku mendoa…kumendoa….untukmu muhammadiyahku Semoga tangguh bak bahtera di samudra dari ancaman taufan Gelombang raksasa. Tapi selama tauhid berdetak di jantung, berdesah di napas Kita gentar tiada.
Untuk Sebuah Nama                                                                    Oktober 2017             Satu persatu gambar di Instagram kuperhatikan, ternyata bukan gambar yang kucari. Walaupun nama yang tertera sama, ternyata bukan itu orangnya. Penasaran sih, tapi sulit juga berjalan-jalan di dunia maya, sekadar mencari sebuah gambar dan nama yang sesuai. Kususuri lagi, kugerakkan layar sentuh ke atas lalu ke bawah, ke atas lagi, lalu ke bawah belum menemukan juga. Itu kulakukan di sela-sela waktu senggangku. Entah kenapa aku tak bisa melupakan nama itu.  Tiga puluh tahun cerita sederhana itu hilang dari peraduan, namun nama itu tak bisa lupa dari ingatan.                Hah!!! Terkejut bukan kepalang, tiba-tiba di layar HP-ku mun...