Langsung ke konten utama

Sajak Beda Tema

Aku tak ingin bulan bundar bersinar
Aku tak ingin hujan basahi peraduan
Aku tak ingin nyaringnya melodi mendenting
Yang ku ingin ibahmu runduk menyejuk kalbu



Tatap mata tak tajam biarkan
Walau putih merona hitam itu wajar
Namun bibir berkata enggan bersuara
Membuat aku semakin membuncahkan rasa



Ketika kering air mata tak bersuara
Di mana embun beningnya bergelayut redah
Sesak dada entah sampai ujung waktu
Tak ada kabar berikut kesudahan
Satu persatu eja pikiran
Melebur rasa yang tiada berbatas


Pantaskah rindu berbelah
Jika burung dara tak lagi di sangkarnya
Narasi biru tuangkan rindu yang tak berkesudahan
Ketika air laut mulai menepi tinggalkan pulau ketangguhan



Jangan disalahkan jika hati ini mulai mengikis
Karena cintamu sudah lagi tak bermakna
Engkau putihkan semuanya
Hingga rasa ini hilang tak bernoda



Hanya dua hati yang bisa mengekangku untuk bertahan
Berdiri pada kaki yang mulai gemeretak
Tersenyum pada bibir yang mulai beku
Hingga harapan hanya tinggal Satu untuk wujudkan
Dua hati menuju ketinggian.



Biarlah senja bermuram duka
Biarlah pagi menyapa lara
Jika siang tersenyum manja
Itu karena lampiaskan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM 13 MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS

Kurikulum Tiga Belas Menuju Pendidikan Berkualitas Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Indikatornya jelas, jika dilihat dari faktor sekolah, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik professional dan minimnya infrastruktur yang menunjang proses pembelajaran. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Adanya kesenjangan antara sekolah-sekolah pinggiran dengan  sekolah faforit  adalah bentuk permasalahan yang paling terlihat jelas dari sekian banyaknya permasalahan yang ada dalam ranah dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, dengan adanya sekolah tersebut maka sudah jelas kualitas pendidikan akan menjadi yang paling utama. Memang, banyak sekolah yang menjamin kualitas pendidikan mereka akan sama dengan negara - negara lain yang lebih maju. Namun, ketika kualitas pendidikan telah mereka gembor – gemborkan. Ironisnya, hanya segelintir anak yang dapat mencicipi bagaimana rasany...

Menghidupkan Kembali Marwah Hikayat melalui Petualangan Game-Based Learning di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

  Bahasa adalah cermin budaya, dan Hikayat adalah salah satu pusaka literasi Nusantara yang kaya akan nilai moral. Namun, di ruang kelas masa kini, Hikayat seringkali dianggap sebagai "momok". Murid-murid saya di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo awalnya merasa asing dengan teks klasik ini. Keluhan mereka beragam: bahasanya sulit dimengerti, alurnya dianggap tidak masuk akal, hingga rasa jenuh saat baru membaca beberapa baris kalimat. Sebagai pendidik, saya merasa memiliki tanggung jawab besar. Hikayat bukan sekadar materi ujian; ia adalah media penyampai nilai-nilai keteladanan yang relevan sepanjang masa. Tantangan utamanya adalah: bagaimana mengubah teks yang dianggap "kuno" ini menjadi materi yang memikat dan relevan bagi generasi Z? Aksi: Belajar dengan Gembira Melalui Kompetisi dan Teknologi Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, saya menerapkan metode Game-Based Learning . Strategi ini dirancang untuk mengubah suasana kelas yang kaku menjadi arena petualangan i...

Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar: Sebuah Refleksi Mendalam

Kalimat itu terngiang, menggema dalam ruang kesadaran kita sebagai pendidik: "Hanya guru yang belajar, yang berhak mengajar." Bukan sekadar slogan pemanis bibir, melainkan sebuah fundamen esensial yang harus tertanam kuat dalam jiwa setiap insan yang memilih jalan pengabdian sebagai guru. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, mengajar adalah tentang menuntun, menginspirasi, dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi unik setiap individu. Dan fondasi dari kemampuan itu adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar. Pedagogi, seringkali direduksi menjadi sekadar metode mengajar, sesungguhnya adalah jantung dari seluruh proses pembelajaran. Ia adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana tahapan perkembangan anak berlangsung, dan bagaimana lingkungan sosio-kultural membentuk pola pikir serta karakter mereka. Seorang guru yang mengabaikan pedagogi, diibaratkan seorang nahkoda yang berlayar tanpa peta dan kompas. Ia mungkin saja bergerak, namun tanpa...