Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Empat Kata Ajaib Ubah Karakter Murid Lebih Baik

Oleh Alfi Faridian Jam terakhir di kelas itu sangat tidak kondusif. Kelas bagai kapal pecah. Ada yang bernyanyi-nyanyi, mendengarkan musik, bahkan ada yang tidur lelap. Salamku saat memasuki kelas tersebut hanya beberapa murid yang membalasnya. Aku hampir tak bisa menahan emosi. Namun Aku segera kontrol diri, tarik napas panjang, teringat komitmenku bahwa aku tak boleh marah ke muridku. Empati harus tetap dimunculkan. Sekali lagi kuucapkan salam dengan lebih lantang. Bergegas pandangan mata mereka tertuju padaku. Mereka saling menyalahkan, ada yang saling menertawakan, gegap gempita pun redah. Suara nada lagu pun senyap seketika. “Lho kok pada diam, kenapa?” ucapku dengan nada tenang. “Salam saya kedua kalinya kok tidak dijawab?” pintaku secara implisit. “Waalaikumsalaaaam” serentak tidak harus diberi aba-aba. Setelah itu mereka tertawa. Riuh lagi tanpa ada alasan. Di tengah riuhnya mereka ada satu siswa dengan sengaja melontarkan istilah “Cuk!”. Rupanya dia sudah terbi...

Dengan Literasi Ciptakan Generasi Unggul dan Beretika

Latar Belakang Mewujudkan generasi handal, unggul, dan berbudi adalah harapan setiap pendidik. Tidak terlalu muluk, sekurang-kurangnya generasi tersebut lebih baik dengan generasi sebelumnya. Keberhasilan mereka, kehebatan mereka, merupakan kebanggaan kita sebagai seorang pendidik. Oleh karena itu pendidik yang sukses adalah pendidik yang mampu menciptakan generasi yang lebih baik dari dirinya. Keberhasilan pendidik tentu tak mudah diwujudkan. Apalagi di zaman teknologi semakin canggih. Pergaulan, informasi apa pun yang kita inginkan dapat dengan mudah kita peroleh. Pergaulan generasi sekarang tanpa batas. Mereka bisa melakukan apa saja dengan mudah. Fasilitas serba ada. Tinggal bagaimana kita memfilter segala informasi dan kecanggihan teknologi tersebut untuk disajikan kepada generasi penerus bangsa. Agar mereka menjadi generasi yang kita mimpikan. Semua itu tanggung jawab bersama. Siapa generasi unggul yang beretika? Dialah yang mampu meneruskan cita-cita para pejuang I...

Banjir Pujian di Hari Guru Nasional

Oleh Alfi Faridian Semua media Sosial dimarakkan dengan postingan “Selamat Hari Guru”. Mulai dari Faceebook, Instagram, Line, sampai Status pribadi Whatsap isinya sama. Bermacam-macam kata indah yang tercantum pada postingan tersebut. Dalam bentuk video pun tak kalah menariknya. Aku sebagai guru bangga dibuatnya. Guru merasa tersanjung di 25 November ini. Dunia maya seakan milik semua guru. Haru biru tak terkecuali yang kurasa saat itu. Ucapan, pujian, terus mengalir dari sahabat, demikian juga murid-muridku. Tak terkecuali doa dari mereka untuk kesuksesan, kesehatan terutama dipanjatkan untukku. Bak ratu sehari yang dibanjiri puji-pujian. Hari itu terasa berbeda, ada yang istimewa. Semua berita mengabarkan sesuatu yang indah dan elegan bagi sang guru. Entah sihir apa yang menimpa masyarakat, hingga sanjungan, bukan umpatan yang diberikan kepada guru. Guru adalah insan cendekia, yang pantas menerima sanjungan tersebut. Sosok yang bisa mengubah dunia. Wahai guru! Apa ...

Putih Berkata Merah

Jika hujan tak mau turun bukan berarti panas terus menggantung Pun... jiwa putih berkata pedih Kapan mau berkasih, sementara awan terus menghadang. Jika putih salju tak menabur bumi, bukan berarti dingin rindu tak terganti peluh. Memang masihkah tersisa ruang... Sedang benih sawi tetap tersemat di dalam hati. Di mana nama itu aku putuskan Jika balut rindu kian mncercah Akan rasa kehilangan jejak Rentang meradang jiwa kotor Oleh serpihan mutiara berkelok rupa Tetap saja membekas lara Tak pernah pudar berkerlip mata Jelaskan pada mimpi dalam kenangan Alihkan mata berpencar rasa Tepisnya ragu kian merekat Usap merebah balutan jingga Resah kalbu entah kenapa Remah kelopak dahlia senyum merekah Ajak kumbang tebarkan kelana Hiasi pipi ranum merah mudah Angkuh melunak tekan imaji Riuh gemuruh dada bergejolak Jangan singkirkan semua rasa Anggap saja putih berkata merah.

Sebuah Nama 2

Maret 2018 Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Malam itu sunyi tanpa angin. Panas hawa menyusuri rumahku yang hanya berukuran 5 meter kebelakang 15 meter. Bisa dibayangkan dua petak kamar berukuran sedang melengkapi ruangan rumahku. Tempat istirahat, tempat melepas penat, yang seharian waktuku habis di sekolah untuk mengamalkan ilmu yang kupunya. Kusapu dari atas ke bawah gawai putihku. Satu-satunya alat untuk menjalin komunikasi dengan murid-muridku. Serta sahabat-sahabatku. Demikian juga dengan rekan kerjaku. Warna hijau muncul dengan nomor yang tak kukenal. Kubuka tertulis salam sebagai pembuka dari orang di seberang sana. Entah perhatianku tak focus pada tulisan itu. Lalu kuulang lagi dengan memperhatikan nomor yang baru masuk dalam deretan kontak WhatsApp -ku. Astaghfirullah… kuperhatikan foto DP yang muncul di nomor asing itu. Debar jantungku seketika berdetak kencang. Sekencang karapan sapi di Madura, bahkan lebih kencang. Aku ulang lagi salamnya…. Ku ulang lagi. Hampir tak ...

Belajar Menulis Cerpen Ala Milenial

Oleh Alfi Faridian Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh murid. Kegiatan menulis merupakan kegiatan menuangkan ide dalam bahasa tulis. Keterampilan yang memerlukan latihan terus menerus ini tidak semua murid menyukai. Namun tak jarang juga murid-murid yang memilih menjadi hobi utamanya. Jangan salah memaknai kata menulis. Menulis bukan menyalin. Banyak orang beranggapan bahwa menulis adalah kegiatan yang monoton. Dikarenakan, menulis dilakukan dengan cara duduk di belakang meja, dan terus duduk sampai kita menyelesaikan tuangannya. Hal itulah terkadang murid menjadi tidak menyukai kegiatan ini. Saat saya mengajarkan bagaimana murid memahami teks Cerpen, sempat kebingungan. Mengapa demikian? Pada materi Bahasa Indonesia yang dipelajari adalah macam-macam teks yang diidentifikasi dan dianalisis. Dan pada akhirnya murid harus bisa memproduksi teks tersebut. Saya harus memutar otak lagi, bagaimana cara menyajikan materi ini dengan menyenangkan, tent...

Ubah Emosi Menjadi Empati Wujudkan Generasi Berprestasi

Sebut saja Hasan dan Lintang. Murid kelas XII di sekolah tempatku mengajar. Mereka anak istimewa. Saya katakan istimewa karena mereka tergolong murid yang hiperaktif. Selalu membuat gaduh hingga murid yang lain bersorak riuh. Itulah yang selalu mereka lakukan sehari-hari, hingga terkadang membuat saya terpancing untuk marah. Suatu hari saya menyampaikan materi tentang menganalisis teks editorial. Sebelum melakukan kegiatan, siswa berkelompok sesuai dengan arahan saya. Seperti yang saya dapatkan dari KGB, pembentukan kelompok dengan cara menyenangkan. Alhasil terbentuklah kelompok di kelas tersebut. Perkelompok 4 siswa. Masing-masing anggota mendapatkan tugas sesuai dengan potensi mereka. ada yang bertugas sebagai juru bicara, ada yang bertugas sebagai notulis, dan distributor, dan tentunya ada yang memimpin. Bagaimana dengan Hasan dan Lintang? Saat pembagian kelompok mereka izin meninggalkan kelas karena ada hajat ke kamar mandi. Mereka berkelompok beranggotakan Hasan dan Lintang. Y...