Langsung ke konten utama

Banjir Pujian di Hari Guru Nasional


Oleh Alfi Faridian

Semua media Sosial dimarakkan dengan postingan “Selamat Hari Guru”. Mulai dari Faceebook, Instagram, Line, sampai Status pribadi Whatsap isinya sama. Bermacam-macam kata indah yang tercantum pada postingan tersebut. Dalam bentuk video pun tak kalah menariknya. Aku sebagai guru bangga dibuatnya.

Guru merasa tersanjung di 25 November ini. Dunia maya seakan milik semua guru. Haru biru tak terkecuali yang kurasa saat itu. Ucapan, pujian, terus mengalir dari sahabat, demikian juga murid-muridku. Tak terkecuali doa dari mereka untuk kesuksesan, kesehatan terutama dipanjatkan untukku. Bak ratu sehari yang dibanjiri puji-pujian.

Hari itu terasa berbeda, ada yang istimewa. Semua berita mengabarkan sesuatu yang indah dan elegan bagi sang guru. Entah sihir apa yang menimpa masyarakat, hingga sanjungan, bukan umpatan yang diberikan kepada guru. Guru adalah insan cendekia, yang pantas menerima sanjungan tersebut. Sosok yang bisa mengubah dunia.

Wahai guru! Apa yang harus dilakukan setelah banjir sanjungan? Tak selamanya sanjungan diberikan oleh masyarakat. Saatnya kita harus berbenah. Jangan merasa aman pada zona nyaman. Berubahlah sebelum zaman menggerus kepiawaian seorang guru. Asah kompetensi hingga ilmu bisa dikuasai. Banyak yang harus dilakukan untuk menggapainya.

Guru adalah manusia biasa. Terkadang juga mempunyai kesalahan. Tetapi sebagai insan biasa juga memiliki perasaan. Ketika dihujat, dimusuhi, bahkan sampai ada yang meregang nyawa saat menaruhkan harga diri, kami tetap manusia biasa yang memiliki rasa. Bagaikan nila setitik, rusaklah susu sebelanga, itulah biasanya yang sering terjadi. Kesalahan yang secuil bisa menghapuskan kebaikan yang kita perbuat.

Dengan adanya hari guru, saya lebih percaya diri. Beban untuk mengantarkan murid ke gerbang kesuksesan terasa ringan. Hal ini dikarenakan semua sanjungan menumbuhkan energi positif bagi guru. Guru perlu belajar, untuk menjadi guru yang kekinian. Bagaimana guru kekinian? Guru yang terus mau belajar. Guru yang terus berkreasi dan berinovasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM 13 MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS

Kurikulum Tiga Belas Menuju Pendidikan Berkualitas Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Indikatornya jelas, jika dilihat dari faktor sekolah, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik professional dan minimnya infrastruktur yang menunjang proses pembelajaran. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Adanya kesenjangan antara sekolah-sekolah pinggiran dengan  sekolah faforit  adalah bentuk permasalahan yang paling terlihat jelas dari sekian banyaknya permasalahan yang ada dalam ranah dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, dengan adanya sekolah tersebut maka sudah jelas kualitas pendidikan akan menjadi yang paling utama. Memang, banyak sekolah yang menjamin kualitas pendidikan mereka akan sama dengan negara - negara lain yang lebih maju. Namun, ketika kualitas pendidikan telah mereka gembor – gemborkan. Ironisnya, hanya segelintir anak yang dapat mencicipi bagaimana rasany...

Soal Bahasa Indonesia ( Surat Lamaran Kerja dan Teks cerita sejarah)

Perhatikan penggalan surat lamaran pekerjaan berikut! “ Berdasarkan iklan lowongan kerja yang saya peroleh melalui internet bahwa …. “ Penggalan surat lamaran tersebut merupakan bagian …. A.       Salam pembuka B.        Pokok surat C.        Paragraf pembuka D.       Isi surat E.        Paragraf penutup Perhatikan nama-nama bagian surat lamaran pekerjaan berikut! a.        alamat dalam b.       tempat,tanggal surat c.        hal d.       lampiran e.        identitas diri dan isi f.        salam pembuka g.       salam penutup h.       daftar lampiran ...

Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar: Sebuah Refleksi Mendalam

Kalimat itu terngiang, menggema dalam ruang kesadaran kita sebagai pendidik: "Hanya guru yang belajar, yang berhak mengajar." Bukan sekadar slogan pemanis bibir, melainkan sebuah fundamen esensial yang harus tertanam kuat dalam jiwa setiap insan yang memilih jalan pengabdian sebagai guru. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, mengajar adalah tentang menuntun, menginspirasi, dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi unik setiap individu. Dan fondasi dari kemampuan itu adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar. Pedagogi, seringkali direduksi menjadi sekadar metode mengajar, sesungguhnya adalah jantung dari seluruh proses pembelajaran. Ia adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana tahapan perkembangan anak berlangsung, dan bagaimana lingkungan sosio-kultural membentuk pola pikir serta karakter mereka. Seorang guru yang mengabaikan pedagogi, diibaratkan seorang nahkoda yang berlayar tanpa peta dan kompas. Ia mungkin saja bergerak, namun tanpa...