Menghidupkan Kembali Marwah Hikayat melalui Petualangan Game-Based Learning di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo
Bahasa adalah cermin budaya, dan Hikayat adalah salah satu
pusaka literasi Nusantara yang kaya akan nilai moral. Namun, di ruang kelas
masa kini, Hikayat seringkali dianggap sebagai "momok". Murid-murid
saya di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo awalnya merasa asing dengan teks klasik
ini. Keluhan mereka beragam: bahasanya sulit dimengerti, alurnya dianggap tidak
masuk akal, hingga rasa jenuh saat baru membaca beberapa baris kalimat.
Sebagai pendidik, saya merasa memiliki tanggung jawab besar.
Hikayat bukan sekadar materi ujian; ia adalah media penyampai nilai-nilai
keteladanan yang relevan sepanjang masa. Tantangan utamanya adalah: bagaimana
mengubah teks yang dianggap "kuno" ini menjadi materi yang memikat
dan relevan bagi generasi Z?
Aksi: Belajar dengan Gembira Melalui Kompetisi dan
Teknologi
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, saya menerapkan metode Game-Based
Learning. Strategi ini dirancang untuk mengubah suasana kelas yang kaku
menjadi arena petualangan intelektual yang suportif.
1. Formasi Tim dan Eksplorasi Literasi
Langkah awal dimulai dengan membentuk kelompok kecil
beranggotakan 5-6 murid. Saya membagikan teks Hikayat "Bayan Budiman"
sebagai bahan utama.
Hikayat Bayan Budiman
Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Mubarok
namanya,terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Tak seberapa lama
setelah ia berdoa kepada Tuhan, maka saudagar Mubarok pun beranaklah istrinya
seorang anak laki-laki yang diberi nama Khojan Maimun. Setelah umurnya Khojkan
maimun lima tahun,maka diserahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru
sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun, ia dipinangkan dengan anak
saudagar yang kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab.
Hatta beberapa lamanya khojan Maimun beristri itu, ia
membeli seekor burung bayan jantan.Maka beberapa di antara itu ia juga membeli
seekor tiung betina, lalu dibawanya ke rumah dan ditaruhnya hampir sangkaran
Bayan juga Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu
minta izinlah dia kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada
istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor
unggas itu, hubaya-hubaya jangan tiada, karena fitnah di dunia amat besar lagi
tajam dari pada senjata.
Hatta beberapa lama ditinggal suaminya, ada anak Raja Ajam
berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka
untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka pada suatu malam, pamitlah
Bibi Zainab kepada burung Tiung itu hendak menemui anak raja itu, maka
bernasihatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT. Maka
marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan
dihempaskannya sampai mati. Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan Bayan yang
sedang berpura-pura tidur. Maka bayan pun berpura-pura terkejut dan mendengar
kehendak hati Bibi Zainab pergi mendapatkan anak raja. Maka Bayan pun berpikir
bila ia menjawab seperti Tiung maka ia juga akan binasa.
Setelah ia sudah berpikir demikian itu, mak ujarnya,”Aduhai
Siti yang baik paras, pergilah dengan segeranya mendapatkan anak raja itu.
Apapun hamba ini haraplah tuan, jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan, Insya
Allah di atas kepala hambalah menanggungnya. Baiklah tuan sekarang pergi,
karena sudah dinanti anak raja itu. Apatah dicari oleh segala manusia di dunia
ini selain martabat, kesabaran, dan kekayaan? Adapun akan hamba, tuan ini
adalah seperti hikayat seekor unggas Bayan yang dicabut bulunya oleh tuannya
seorang istri saudagar. Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk
mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab
dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu.
Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin
mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan Bayan , maka diberilah
ia cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam , burung tersebut
bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan
menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya. Burung Bayan tidak
melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia
berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya.
Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya
dengan putera raja. begitulah seterunya sehingga Khoja Maimun pulang dari
pelayarannya.
Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya
tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang.
Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumah tangga
tuannya.
Semangat kompetisi
mulai dipantik melalui dua permainan awal:
- Perburuan
Kata Sulit: Setiap kelompok berbaris ke belakang. Secara estafet,
mereka berlari menuju kertas kosong untuk menuliskan kata-kata arkais atau
sulit yang mereka temukan. Kecepatan dan ketelitian menjadi kunci.
- Duel
Makna: Kata-kata sulit tersebut kemudian ditukar antar kelompok.
Dengan bantuan kamus, mereka berlomba mengartikan kata-kata tersebut dalam
durasi waktu tertentu. Di sini, pemahaman kosakata terjadi secara organik
melalui kerja sama tim.
2. Ular Tangga Literasi Berbasis Digital
Puncak keseruan terjadi saat saya menghadirkan papan
permainan Ular Tangga Raksasa. Namun, ini bukan ular tangga biasa. Di
beberapa kotak, saya menyisipkan barcode yang berisi pertanyaan kritis
terkait unsur intrinsik hikayat. Setiap kelompok mengirimkan "duta"
mereka untuk melangkah di atas papan. Jika berhenti di kotak ber-barcode,
mereka harus memindainya dan menjawab pertanyaan dengan tepat untuk mendapatkan
poin. Antusiasme meledak; mereka tidak lagi merasa sedang "diberi
soal", melainkan sedang menuntaskan misi permainan. Berikut
pertanyaan-pertanyaannya,
1.
Siapakah tokoh utama yang memiliki sifat
bijaksana dan menggunakan kecerdasannya untuk menyelamatkan keutuhan rumah
tangga tuannya dalam hikayat ini?
2.
Apa alasan utama Khojan Maimun pergi merantau
dan meninggalkan Bibi Zainab di rumah?
3.
Strategi apa yang dilakukan Bayan Budiman untuk
mencegah Bibi Zainab pergi menemui anak raja?
4.
Apa perbedaan nasib antara Burung Tiung dan
Bayan Budiman saat menasihati Bibi Zainab?
5.
Manakah yang merupakan nilai moral utama dari
Hikayat Bayan Budiman?
6.
Dalam struktur teks hikayat, bagian yang
menceritakan asal-usul Khojan Maimun hingga ia membeli Bayan disebut...
7.
Hikayat sering menggunakan kata-kata arkais. Apa
arti kata 'hatta' yang sering muncul dalam teks tersebut?
8.
Mengapa cerita hikayat seringkali dianggap
'istana sentris'?
9.
Apa yang dilakukan Bibi Zainab setiap kali ia
selesai mendengarkan cerita Bayan hingga pagi hari?
10.
Karakter Bayan Budiman menunjukkan bahwa untuk
menyelesaikan masalah, kita sebaiknya menggunakan...
3. Diferensiasi Produk: Menarasikan Ulang Warisan
Setelah memahami isi cerita melalui permainan, langkah
terakhir adalah Pembelajaran Berdiferensiasi. Saya membebaskan murid
untuk mengalihbahasakan hikayat pilihan mereka ke dalam bahasa sehari-hari yang
lebih modern, sesuai dengan minat dan bakat masing-masing:
- Murid
yang mahir menulis membuat cerpen modern.
- Murid
yang ekspresif menampilkan drama singkat atau membuat video/vlog.
- Murid
yang visual menuangkan cerita ke dalam bentuk komik digital atau
poster.
Hasil dan Refleksi: Perubahan yang Menakjubkan
Hasil dari praktik ini sungguh di luar ekspektasi.
Pembelajaran tidak lagi searah; kelas menjadi hidup dan penuh tawa.
Capaian Pembelajaran yang Berhasil Diraih:
- Kegembiraan
Belajar: Murid tidak lagi merasa tertekan oleh bahasa klasik yang
rumit.
- Pemahaman
Mendalam: Melalui permainan dan digitalisasi (barcode), konsep unsur
intrinsik dipahami secara tuntas.
- Internalisasi
Nilai: Dengan mengalihbahasakan hikayat, murid mampu menyerap
nilai-nilai karakter (seperti kesetiaan dan kebijaksanaan dari Bayan
Budiman) dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
- Kreativitas
Tanpa Batas: Produk berdiferensiasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa
Hikayat tetap bisa "bernapas" di tangan anak muda jika diberikan
ruang kreativitas yang tepat.
Melalui praktik baik ini, saya belajar bahwa tugas guru
bukan sekadar memindahkan isi buku ke kepala murid, melainkan membangun
jembatan agar murid bisa menemukan makna di setiap kata yang mereka baca.

Komentar
Posting Komentar