Langsung ke konten utama

Sepatuku Bukan Sepatu Biasa


Aku terus menunggu waktu,,sejak undangan itu sampai di tanganku. Alhamdulillah,,berkali-kali puji syukur itu keluar dari bibirku. Ehm…ternyata tak terasa sudah cukup lama aku mengabdikan diri jadi ibu guru di sekolah yang tergolong mewah di lingkungan daerahku. Ya…SMA Bina Nusa 2. Lima belas tahun bukan waktu sebentar untuk bercanda, berbagi ilmu, bahkan terkadang mendengar tangisan anak-anak bangsa dengan berbagai permasalahannya. Asyik, senang, dan berkesan. “Ori menikah” gumamku dalam hati.
Assalaamualaikum ibu,,, sapaan  dari balik punggung itu mengagetkan aku, sepertinya aku pernah mengenal suara itu. Waalaikumsalam,,,seraya aku berbalik ingin segera melihat yang mempunyai suara itu, tak lain itu suara Citra…muridku yang paling bawel, pintar berargumen, cantik, centil, sekarang penampilannya berubah 180 derajat menjadi sosok perempuan lembut dan keibuan. Di sela-sela para undangan pesta pernikahan Ori, riuh, suka cita, sayup-sayup lagu bersenandung menambah meriah suasana pesta itu. Kupeluk dia sembari dicium tangan ini sebagai ungkapan rasa rindu yang tak terperi.
“Apa kabar cantik?” sapaku sambil kulepas perlahan pelukannya, “Alhamdulillah, baik Ibu” suara dan gayanya masih Citra tujuh tahun yang lalu. “Pokoknya kita nggak salah Bu!” Citra cs membela diri ketika harus perang dingin dengan Uphit panggilan Puspita salah satu teman sekelasnya. “Dia sok!! Sok cantik!, sok gaya!, sok pinter!, padahal dia nggak ada apa-apanya dari kita”, tambah Ana yang satu genk dengan Citra. Citra, Ana, Ratri, Anggi, satu lagi Lidya, lima cewek jagoan di kelas SEPATU (sebelas ipa satu). Memang mereka jago berargumen, jago kimia, jago matematika, bahkan jago dalam menaklukkan teman laki-lakinya, di samping itu mereka juga jago bermain musik. ” Sudahlah,,apa sih, yang kalian ributkan?? Sambil kupegang  pundak mereka satu persatu, sebagai ibu wali di kelas itu aku berusaha mendamaikan perselisihan di antara mereka. Uphit hanya diam tak bisa berkata-kata karena takut akan kicauan Citra cs yang selalu memojokkannya. Aku tersenyum melihat perselisihan mereka. “Inilah proses pendewasaan buat mereka”, kataku dalam hati.  “ Ibu apa kabar?” Citra di hadapanku membuyarkan kenangan itu. Alhamdulillah, baik juga Citra, aku tersenyum bangga bahwa dia sekarang jadi ibu guru seperti aku. “ Buk ternyata jadi guru itu susah ya” balasnya untuk memulai pembicaraan. “Ah nggak juga sih, kalau kita ikhlas menjalani, kita nikmati akan lebih menyenangkan”, jawabku. Sesekali aku menoleh ke kanan, ke kiri, sambil mencari-cari para undangan barangkali ada yang kukenali lagi.
Ibuuuuk….Assalamualaikum,,Ira yang berbadan dua bersama suaminya, langsung menjabat tanganku sambil memeluk erat tubuh ini, tak ubahnya seperti yang dilakukan Citra terhadapku tadi. Akhhirnya kami bertiga hanyut bernostalgia mengenang kebersamaan SEPATU.
Tampak dari kejauhan begitu serasihnya Ori bersanding dengan pangeran pujaan hatinya. Ratu semalam, begitu anggun dengan balutan gaun sutera warna keemasan. Kesederhanaan panggung yang melatari bidan yang sedang berbahagia itu tak mengurangi kesakralan acara mereka. “Subhanallah”…..gumamku lirih,  mereka foto bersama di atas panggung,,berjajar dari sebelah kanan sosok mereka tak asing buatku. Say.. panggilan sang ketua kelas waktu itu, nama lengkapnya Sayfuddin, Fitroh pemain voli waktu itu,,ada Reza salah satu tim basket di sekolah, Nur Cholis,, yang pendiam tapi otaknya sangat cerdas, berikutnya ya..dia.. Anggara yang santun hingga banyak perempuan ingin jadi teman istimewanya, anggota band kebanggaan kelas yah…tak salah dia Hermawan. Berjajar sebelah kiri tampak perempuan-perempuan cantik nan anggun, ada Ana yang tomboy, Fitri yang bawel, Ratri yang keibuan, Anggita yang cerewet sedikit cuek.
 “Ibu tinggal tanda tangan saja di sini” ujar Anggara sambil menyodorkan kertas yang aku sendiri belum tahu apa isi dari kertas tersebut. Suara tegas nan berwibawa membuat aku semakin bingung.
   “Apa ini Anggara?” balasku sambil sekilas kulihat banyak tanda tangan dengan nama-nama yang tak asing buatku.
“Teman-teman sudah sepakat Ibu” tegasnya
“Sepakat apa?” aku semakin bingung
“Silahkan dibaca Bu” sambungnya.
Tak biasanya Anggara bersikap seperti ini, dia yang terkenal sebagai sosok siswa yang santun, tiba-tiba menghadangku sembari menyodori selembar kertas tanda protes kepada sekolah, karena ada satu guru yang dianggap kurang sesuai dalam menyampaikan ilmunya kepada teman sekelasnya, anehnya kertas itu sudah tertanda tangani seluruh siswa SEPATU. Segera kuajak dia duduk di sudut ruang guru.
                “Separah inikah” suara lirihku mengawali pembicaraan kta
                “Ya Bu,,,, teman-teman sudah tidak berkenan dengan pola mengajar beliau” tambahnya
“Kita coba cara lain ya” gumamku pelan supaya tidak terdengar oleh guru lain yang ada di ruang itu.
“Ibu kita kan sudah memberikan banyak toleransi kepada beliau”tegasnya lirih setengah berbisik.
“Iya siih…kita tunda dulu surat ini ya…” Pintaku
“Ibu, yang diajarkan Pak Sogi adalah  mata pelajaran inti, kita tidak bisa menunggu-nunggu, sebentar lagi ujian semester,,lantas bagaimana belajar kita Bu????” Belanya.
“Memang masalah ini sudah saya sampaikan ke pimpinan, Anggara,,bilang ke teman-teman tuk bersabar,” ujarku hingga aku hampir  tak bisa berkata-kata lagi.
“Ibu,, mohon ditanda tangani, nanti kita yang akan menyampaikan ke Pak Abdillah” pintanya.
“Ya sudah bawa sini suratnya, nanti Ibu tanda tangani  dan saya serahkan ke bapak kepala sekolah” kataku sambil menarik napas panjang.                Setengah berlari dia melesat dari ruangan membawa kabar gembira buat  teman sekelasnya.
Salam hormat Ibu Assalamualaikum,, sekilas kenangan tentang mereka,,tiba-tiba mereka sudah ada di depan mataku. Seolah-olah mereka menagih janji bagaimana kelanjutan surat protes tersebut. Aku tersenyum bangga sambil menjawab  salam  mereka, wajah-wajah yang semakin dewasa satu persatu kutatap sembari menjabat  tanganku pertanda hormatnya kepada sang bunda guru.” “Alhamdulillah….kita masih dipertemukan oleh Allah” kumulai suasana yang mengharukan itu.
“Bagaimana kabar kalian?” lanjutku
“Alhamdulillah baik bu, berkat doa ibu juga” jawab Anggara yang jago berargumen.
Tetap saja dia selalu yang mewakili ungkapan isi hati teman-temannya.
“Maaf kan kami Ibu, lama tak bersilaturrahmi ke rumah,,,? Lanjutnya
“Iya Bu…” yang lain menambahkan.
“Nggak apa-apa….yang penting kita selalu saling mendoakan,,” jawabku tersenyum.
“Ibu saya sudah kerja di perusahaan Listrik Negara…” Seru Fitro bangga.
“Ini Bu,,, sambil menunjuk ke pemuda tampan di sebelahnya yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum ,jadi polisi.” Tambahnya.
“Alhamdulillah…Nur Cholis,, “ Jawabku sambil menitikkan air mata bangga.
“Lantas?” Imbuhku sambil menunjuk yang lain.
“Saya bekerja di persahaan asing Bu, Saya sudah menyelesaikan Studi kedokteran Ibu, Saya melanjutkan pendidikan S2 Ibu, …” Satu persatu dia pantas membanggakan keberhasilannya kepada guru yang pernah menemani di bangku SMA yang penuh dengan kisah-kisah yang mengesankan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM 13 MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS

Kurikulum Tiga Belas Menuju Pendidikan Berkualitas Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Indikatornya jelas, jika dilihat dari faktor sekolah, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik professional dan minimnya infrastruktur yang menunjang proses pembelajaran. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Adanya kesenjangan antara sekolah-sekolah pinggiran dengan  sekolah faforit  adalah bentuk permasalahan yang paling terlihat jelas dari sekian banyaknya permasalahan yang ada dalam ranah dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, dengan adanya sekolah tersebut maka sudah jelas kualitas pendidikan akan menjadi yang paling utama. Memang, banyak sekolah yang menjamin kualitas pendidikan mereka akan sama dengan negara - negara lain yang lebih maju. Namun, ketika kualitas pendidikan telah mereka gembor – gemborkan. Ironisnya, hanya segelintir anak yang dapat mencicipi bagaimana rasany...

Soal Bahasa Indonesia ( Surat Lamaran Kerja dan Teks cerita sejarah)

Perhatikan penggalan surat lamaran pekerjaan berikut! “ Berdasarkan iklan lowongan kerja yang saya peroleh melalui internet bahwa …. “ Penggalan surat lamaran tersebut merupakan bagian …. A.       Salam pembuka B.        Pokok surat C.        Paragraf pembuka D.       Isi surat E.        Paragraf penutup Perhatikan nama-nama bagian surat lamaran pekerjaan berikut! a.        alamat dalam b.       tempat,tanggal surat c.        hal d.       lampiran e.        identitas diri dan isi f.        salam pembuka g.       salam penutup h.       daftar lampiran ...

Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar: Sebuah Refleksi Mendalam

Kalimat itu terngiang, menggema dalam ruang kesadaran kita sebagai pendidik: "Hanya guru yang belajar, yang berhak mengajar." Bukan sekadar slogan pemanis bibir, melainkan sebuah fundamen esensial yang harus tertanam kuat dalam jiwa setiap insan yang memilih jalan pengabdian sebagai guru. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, mengajar adalah tentang menuntun, menginspirasi, dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi unik setiap individu. Dan fondasi dari kemampuan itu adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar. Pedagogi, seringkali direduksi menjadi sekadar metode mengajar, sesungguhnya adalah jantung dari seluruh proses pembelajaran. Ia adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana tahapan perkembangan anak berlangsung, dan bagaimana lingkungan sosio-kultural membentuk pola pikir serta karakter mereka. Seorang guru yang mengabaikan pedagogi, diibaratkan seorang nahkoda yang berlayar tanpa peta dan kompas. Ia mungkin saja bergerak, namun tanpa...