Langsung ke konten utama

Diam yang Membuncah



Aku tak banyak mengungkap rasa
Ketika sepasang mata diam di hadapan
Masih sama ketika putih abu-abu
Namun lebih berwarna

Aku tak banyak menebar butir mata air
Walau napas tinggal separuh jalan
kuluman menutupi harapan hambarku
Hingga kekuatan itu makin membuncah

Seiring dengan bergulirnya mimpi
Aku tak sanggup lagi untuk pejamkan mata
Karena ada wajah yang terus menggelayut menggoda

Inginkan gambar itu terusir dari kaca jendela
Namun sang bintang gemerlap makin indah sinarnya
Hingga menorehkan sayatan yang begitu dalam

Begitu mendasarnya kekuatan cinta itu
Hingga aku tak mampu meruntuhkan kelopaknya
Begitu dasyatnya hembusan rindu pilu
Hingga mengakar dalam sari putik keindahan
Haruskah kuakhiri....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM 13 MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS

Kurikulum Tiga Belas Menuju Pendidikan Berkualitas Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Indikatornya jelas, jika dilihat dari faktor sekolah, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik professional dan minimnya infrastruktur yang menunjang proses pembelajaran. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Adanya kesenjangan antara sekolah-sekolah pinggiran dengan  sekolah faforit  adalah bentuk permasalahan yang paling terlihat jelas dari sekian banyaknya permasalahan yang ada dalam ranah dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, dengan adanya sekolah tersebut maka sudah jelas kualitas pendidikan akan menjadi yang paling utama. Memang, banyak sekolah yang menjamin kualitas pendidikan mereka akan sama dengan negara - negara lain yang lebih maju. Namun, ketika kualitas pendidikan telah mereka gembor – gemborkan. Ironisnya, hanya segelintir anak yang dapat mencicipi bagaimana rasany...

Menghidupkan Kembali Marwah Hikayat melalui Petualangan Game-Based Learning di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

  Bahasa adalah cermin budaya, dan Hikayat adalah salah satu pusaka literasi Nusantara yang kaya akan nilai moral. Namun, di ruang kelas masa kini, Hikayat seringkali dianggap sebagai "momok". Murid-murid saya di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo awalnya merasa asing dengan teks klasik ini. Keluhan mereka beragam: bahasanya sulit dimengerti, alurnya dianggap tidak masuk akal, hingga rasa jenuh saat baru membaca beberapa baris kalimat. Sebagai pendidik, saya merasa memiliki tanggung jawab besar. Hikayat bukan sekadar materi ujian; ia adalah media penyampai nilai-nilai keteladanan yang relevan sepanjang masa. Tantangan utamanya adalah: bagaimana mengubah teks yang dianggap "kuno" ini menjadi materi yang memikat dan relevan bagi generasi Z? Aksi: Belajar dengan Gembira Melalui Kompetisi dan Teknologi Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, saya menerapkan metode Game-Based Learning . Strategi ini dirancang untuk mengubah suasana kelas yang kaku menjadi arena petualangan i...

Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar: Sebuah Refleksi Mendalam

Kalimat itu terngiang, menggema dalam ruang kesadaran kita sebagai pendidik: "Hanya guru yang belajar, yang berhak mengajar." Bukan sekadar slogan pemanis bibir, melainkan sebuah fundamen esensial yang harus tertanam kuat dalam jiwa setiap insan yang memilih jalan pengabdian sebagai guru. Lebih dari sekadar menyampaikan materi, mengajar adalah tentang menuntun, menginspirasi, dan memfasilitasi tumbuh kembang potensi unik setiap individu. Dan fondasi dari kemampuan itu adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar. Pedagogi, seringkali direduksi menjadi sekadar metode mengajar, sesungguhnya adalah jantung dari seluruh proses pembelajaran. Ia adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana tahapan perkembangan anak berlangsung, dan bagaimana lingkungan sosio-kultural membentuk pola pikir serta karakter mereka. Seorang guru yang mengabaikan pedagogi, diibaratkan seorang nahkoda yang berlayar tanpa peta dan kompas. Ia mungkin saja bergerak, namun tanpa...