Langsung ke konten utama

Budayakan Menulis


Budayakan Menulis

Kewajiban seorang guru mengajar dan menuntun siswa untuk gemar membaca dan menulis.
Atau istilah yang lebih populer adalah kewajiban seorang guru membudayakan literasi kepada siswa. bagaimana pun cara yang kita lakukan. Inovasi dan kreativitas sangat diperlukan dalam hal ini.

Image result for gambar budaya menulis
Di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, dengan sebutan keren Smamda menerapkan hal ini. Didukung fasilitas yang lengkap, siswa dan guru selalu memanfaatkan sarana yang disediakan oleh sekolah untuk pembelajaran. Hal tersebut bertujuan agar pembelajaran bisa berhasil maksimal.

Pembiasaan menulis juga dilakukan di sekolah unggulan di kota Sidoarjo ini. Terutama di bidang Mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pratik itulah yang diutamakan. Siswa diajak menulis. Itulah aplikasi yang nyata. Dengan demikian kegiatan pembelajaran terwujud nyata.

Hal ini dilakukan oleh seorang guru Bahasa Indonesia, dalam pembelajaran Menulis Berita. Setelah melewati proses Mengamati, menanya, mengekplorasi, dan mengomunikasikan, saatnya memproduksi teks berita. Inilah tantangan bagi seorang guru. Memotivasi siswa untuk memulai menulis tidaklah mudah. Salah satu yang dilakukan seorang guru adalah tak henti-hentinya mengajak menulis. Untuk membuktikan bahwa menulis itu mudah, guru harus terlibat langsung. Tunjukkan karya kita ke mereka. Misalnya kita menulis puisi, tidak berapa lama puisi kita tulis, kita persembahkan unutk siswa. Kita bacakan puisi tentang mereka. Itu semua bisa memotivasi siswa untuk belajar menulis

Selain itu hasil tulisan siswa bisa kita unggah ke dunia maya, misalkan ke Blog, Facebook, atau lainnya. Itu membuat siswa lebih percaya diri untuk bisa menulis. Selain itu siswa akan terbiasa kegiatan baru yaitu menungkapkan ide-ide baru tentang lingkungannya. Situs-situs media sosial sangat membantu guru untuk memudahkan proses belajar mengajar.

Selain itu komentar guru sangat diperlukan. Dengan komentar guru siswa lebih dihargai jerih payahnya oleh guru. Hasil karya lebih dihargai. Hal tersebut dilakukan agar siswa menulis, dan menulis lagi.

Itulah sedikit ungkapan tentang pengalaman membudayakan menulis terhadap siswa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KURIKULUM 13 MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS

Kurikulum Tiga Belas Menuju Pendidikan Berkualitas Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Indikatornya jelas, jika dilihat dari faktor sekolah, banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik professional dan minimnya infrastruktur yang menunjang proses pembelajaran. Hal tersebut jelas berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Adanya kesenjangan antara sekolah-sekolah pinggiran dengan  sekolah faforit  adalah bentuk permasalahan yang paling terlihat jelas dari sekian banyaknya permasalahan yang ada dalam ranah dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, dengan adanya sekolah tersebut maka sudah jelas kualitas pendidikan akan menjadi yang paling utama. Memang, banyak sekolah yang menjamin kualitas pendidikan mereka akan sama dengan negara - negara lain yang lebih maju. Namun, ketika kualitas pendidikan telah mereka gembor – gemborkan. Ironisnya, hanya segelintir anak yang dapat mencicipi bagaimana rasany...

Soal Bahasa Indonesia ( Surat Lamaran Kerja dan Teks cerita sejarah)

Perhatikan penggalan surat lamaran pekerjaan berikut! “ Berdasarkan iklan lowongan kerja yang saya peroleh melalui internet bahwa …. “ Penggalan surat lamaran tersebut merupakan bagian …. A.       Salam pembuka B.        Pokok surat C.        Paragraf pembuka D.       Isi surat E.        Paragraf penutup Perhatikan nama-nama bagian surat lamaran pekerjaan berikut! a.        alamat dalam b.       tempat,tanggal surat c.        hal d.       lampiran e.        identitas diri dan isi f.        salam pembuka g.       salam penutup h.       daftar lampiran ...

Menghidupkan Kembali Marwah Hikayat melalui Petualangan Game-Based Learning di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo

  Bahasa adalah cermin budaya, dan Hikayat adalah salah satu pusaka literasi Nusantara yang kaya akan nilai moral. Namun, di ruang kelas masa kini, Hikayat seringkali dianggap sebagai "momok". Murid-murid saya di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo awalnya merasa asing dengan teks klasik ini. Keluhan mereka beragam: bahasanya sulit dimengerti, alurnya dianggap tidak masuk akal, hingga rasa jenuh saat baru membaca beberapa baris kalimat. Sebagai pendidik, saya merasa memiliki tanggung jawab besar. Hikayat bukan sekadar materi ujian; ia adalah media penyampai nilai-nilai keteladanan yang relevan sepanjang masa. Tantangan utamanya adalah: bagaimana mengubah teks yang dianggap "kuno" ini menjadi materi yang memikat dan relevan bagi generasi Z? Aksi: Belajar dengan Gembira Melalui Kompetisi dan Teknologi Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, saya menerapkan metode Game-Based Learning . Strategi ini dirancang untuk mengubah suasana kelas yang kaku menjadi arena petualangan i...