Jumat, 06 Oktober 2017

Untuk Sebuah Nama
                                                                   Oktober 2017
            Satu persatu gambar di Instagram kuperhatikan, ternyata bukan gambar yang kucari. Walaupun nama yang tertera sama, ternyata bukan itu orangnya. Penasaran sih, tapi sulit juga berjalan-jalan di dunia maya, sekadar mencari sebuah gambar dan nama yang sesuai. Kususuri lagi, kugerakkan layar sentuh ke atas lalu ke bawah, ke atas lagi, lalu ke bawah belum menemukan juga. Itu kulakukan di sela-sela waktu senggangku. Entah kenapa aku tak bisa melupakan nama itu.  Tiga puluh tahun cerita sederhana itu hilang dari peraduan, namun nama itu tak bisa lupa dari ingatan.
               Hah!!! Terkejut bukan kepalang, tiba-tiba di layar HP-ku muncul gambar dan nama yang sama, yang selama ini kucari-cari. Bagaikan tersambar petir rasaku saat itu. Keringat dingin tiba-tiba membasahi jemariku, hingga aku tak mampu mengoperasikan HP putihku. Namun yang kurasa hawa panas menyesak di sekujur tubuh ini. Rasa itu kembali muncul setelah sekian lama menghilang di telan zaman.
      Lamat-lamat kuperhatikan gambar itu. Rambutnya masih membekas jambul keritingnya, walau semakin menipis dan semburat memutih. Rahang segi empat tergambar jelas, namun sedikit menipis, entah apa sebabnya. Mungkin seringnya menghisap cerutu membuat demikian, yang saya tahu, sejak aku mengenalnya dia sudah akrab dengan “Bentoel Biru”nya. Karena kebiasaan itulah terkadang kesehatannya sering terganggu. Wajah yang sudah menua tak jauh beda saat aku terakhir bertemu. Ya aku yakin bahwa gambar itu adalah dia sesuai dengan namanya.
            Sepucuk surat cinta diselipkan di antara buku catatan matematika yang dipinjamnya. Tak sabar kubuka setelah aku sampai di rumah. Seragam abu-abu masih melekat di badan, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.
Aku sekolah di SMA Dirgantara, kegiatan pembelajaran dilakukan siang sampai sore hari, maklum bukan SMA Negeri. Namun aku sangat menikmati suasana tersebut, walau terkadang rasa kantuk tak bisa dihindari. Teman-teman yang baik membuat aku betah dan bersemangat untuk belajar.
             Perlahan-lahan sambil merebahkan tubuh kubuka surat yang berwarna merah muda itu, kuperhatikan tulisannya sangat rapi. Sesekali aku beranjak dari ranjang, sebelum kubacanya. Saat itu baru pertama aku menerima surat dari seorang laki-laki. Ada rasa khawatir yang luar biasa jika diketahui oleh orangtuaku, atau saudaraku. Ya Rob, kenapa jantung berdegup sangat kencang, kembali keringat dingin membasahi sebagian tubuhku,

Untukmu
Fina
Lama ingin kuungkapkan perasaan ini,
namun baru sekarang keberanian itu muncul.
Aku takut kau menolak perasaanku yang tak bisa kupendam lagi
Izinkan aku menyayangimu
Aku ingin kita selalu berdua selamanya karena aku mencintaimu.
Aku takut kamu marah setelah membaca surat ini.

Aku
Yang menyayangimu

        Kuulangi lagi sampai yang ke lima, baru aku yakin bahwa dia mencintai aku, pandanganku menerawang ke langit-langit kamar yang hanya berukuran 2 x 3 meter. Berasa makin sempit kamar ini. Aku tersenyum sendiri tanpa malu disaksikan luskisan bunga sakura yang menghiasi dinding kamar. Seakan ikut gembira melihatku. Pertama kali aku dicintai seorang laki-laki, dan diungkapkan lewat surat dengan bahasa yang sangat romantis. Detak jantungku semakin kencang mengalahkan detak jarum jam dinding yang dari tadi menjadi saksi bisu akan surat cintaku. Bayangan wajah itu tiba-tiba muncul di pelupuk mata, senyumnya, candanya, semua menyatu dalam balutan rindu. Kupeluk surat merah jambuku, sesekali kucium wanginya, indah sekali sore itu.
         Lucu dan kocak candanya yang membuat aku terpesona dan jatuh hati padanya. Dikatakan ganteng, biasa saja, pintar? oke juga, setia? Belum tahu. Tapi dia yang pertama membuat aku merasakan indahnya jatuh cinta. Hari-hariku semakin indah bersamanya. Semangat untuk belajar semakin bergelora. Mungkin itu adalah energi positif dari sebuah kata cinta. Semua berubah. Seperti orang yang tidak waras, terkadang aku tersenyum sendiri merasakan jatuh cinta yang bergelora.
            Kupandangi lagi gambar yang ada di Instagram. Berkali-kali. Muncul keraguan ketika aku ingin menyapa  dia walau di dunia maya. Berkumis tebal dan berkacamata hitam menyembunyikan keluguan wajah masa lalunya. Tapi aku semakin yakin garis wajah yang tampak adalah nama yang tidak salah. Yang pernah singga di hatiku. Dulu, dulu sekali.  
             Setelah heri kedua kubalas surat itu, tanpa basa basi kamipun berpacaran. Indahnya berpacaran di masa SMA. Tawa dan tangis melengkapi cerita itu. Di sela-sela waktu ingin selalu bersama, berdua, hingga waktu berputar sangat cepat. Rasa cemburu yang berlebihan terkadang mengiringi cerita membuat air mata takut kehilangan dia. Semua itu terkemas dalam cerita cinta di SMA Dirgantara.
           Bersama lima sahabatku diajak main kerumahnya. Lumayan jauh rumahnya. Beda kota dengan tempat tinggalku. Terkadang aku juga sempat berpikir, jauh-jauh sekolah di luar kota apa tidak ada sekolah di sekitar rumahnya. Namun dengan kepolosanku atau memang ini takdir Tuhan sehingga aku dan dia bertemu di satu sekolah ini. Kekonyolan itu baru aku rasakan. Kami pun harus naik bis antar kota menuju rumahnya. Setelah pamit kepada orangtuaku, kami pun berangkat menuju kota cinta, yang ternyata tidak jauh dari tempat wisata yang terkenal yaitu air terjun kakek bodo.
           Stelah berkenalan dengan keluarganya, tak lengkap jika tidak  mengunjungi tempat wisata yang terkenal itu. Tiga puluh menit dari rumahnya, kami pun sampai di tujuan. Indah sekali pemandangannya. Udara yang bersih membuat sejuk segar suasananya. Bahkan suara gemiricik air terjun di kejauhan melengkapi suasana yang menyenangkan. Kami pun menyusuri jalan setapak menuju tempat air terjun. Jalan semakin menanjak, bebatuan berbalut lumut, kadang membuat aku terpeleset. Seketika itu dengan  sigapnya dia menggandeng erat tanganku agar aku tak terjatuh lagi. Awalnya biasa saja, tak lama kemudian, genggaman tangannya membuat hatiku bergejolak. Ditambah dengan tatapan matanya yang meruntuhkan jiwaku. Aku tak bisa menolak saat dia memeluk erat tubuh ini ketika jalan yang terjal membuat aku terperosok ke lubang yang tak terlalu dalam juga. Kesempatan gurau salah satu temanku. Kami pun tersenyum dan melanjutkan perjalanan.
            Gambar yang baru kutemukan membuat kenangan itu muncul satu demi satu. Suka duka pertama aku mengenal rasa cinta. Tak kecuali saat hujan mengguyur perjalanan kami. Sepulang sekolah menuju rumahku, kami habiskan dengan jalan kaki, kurang lebih sekilo jarak antara rumahku dan sekolah. Sesampai rumahku, dia menuju halte yang tak tauh juga dari rumahku menunggu bis langganannya. Suatu hari, hujan tak kunjung redah. Hingga waktu menunjukkan pukul 17.11 menjelang maghrib. “Yuk naik becak” ajakku. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Keburu mangrib”lanjutku. “Kalau begitu ayo kita pulang”, ajaknya. “Naik becak atau angkot?” aku balik bertanya. “Kita jalan saja” sambil tersenyum dia menarik tanganku menyatu dalam rintik gerimis yang tak kunjung redah. “Basah semua bajumu, rumahmu kan masih jauh”. “santai nanti aku mampir ke rumah Indra pinjam baju”, “kalau berhujan-hujan dengan putriku beda suasananya” guraunya mengawali perjalanan kami. Kucubit lengannya. “Kamu gak papa kan?” ternyata dia mengkhawatirkan aku juga. Aku mengangguk tanda setuju. Di dekat pos kereta, hujan semakin deras, kamipun harus berteduh. Satu-satunya tempat berteduh adalah pos penjaga plang kereta. Kamipun masuk di dalamnya. Kami berdua, hanya berdua di dalam pos. saling pandang antara dua manusia yang sedang bergelora rasa cintanya. Basah kuyup berdua. Digenggamnya tangan ini erat-erat tubuh kami menyatu, tak lama bibirnya sudah menyatu dalam rasa yang semakin memuncak. Di luar pos plang kereta, hujan semakin deras.
            Bunga semakin bermekaran, sinar mentari menambah marak warna-warninya. Begitu juga cerita cintaku bersama dia. Dia telah mengisi hari-hariku semakin berwarna. Semakin tahu makna sebuah rasa cinta. Walaupun saat itu masih dikatakan cinta monyet. Dirasa indah hanya sekejap saja.
Hingga suatu hari semuanya berubah. Senyum dan candanya entah kemana? Perhatian dan kasihnya mulai memudar. Sebuah tanda tanya besar bergelayut di pikiranku. Kenapa? Ada apa?
         Tiba-tiba sahabatku menghampiri aku yang selalu menanti gurauan lucunya. “Maafkan aku kalau aku bawa kabar sedih ya”, ungkap sahabatku. “Ada apa?”, aku sudah merasa bahwa akan terjadi hal yang tidak menyenangkan. “ Dia sudah nggak sayang lagi ke kamu, itu pesannya”, dengan berat hati sahabatku menuturkannya padaku. Setelah kudengar kata-kata itu, sontak aku menuju kamar mandi sekolah, aku menangis sejadi-jadinya. Semua terasa gelap. Saat itu juga hatiku hancur, sakit, sakit sekali. Hanya air mata yang tahu betapa sakitnya perasaanku saat itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan, dia berpesan seperti itu. Sama sekali tidak memperhatikan perasaanku. Aku yang begitu tulus menerima cintanya, begitu yakin akan besar kasih sayangnya, tiba-tiba diruntuhkan hingga sampai jurang kesakitan yang paling bawah. Semua terasa tidak adil.
           Sejak saat itu semua tampak abu-abu. Ceria itu hilang, semangat belajar pun memudar. Seakan aku kehilangan jati diri. Luka itu sangat membekas. Hingga aku tak mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Kekuatan itu sudah sirna bersama keangkuhan cintanya. Mengapa  begitu cepat, rasa cinta berubah menjadi benci.
            Kuperhatikan bibir digambar itu, walau tertutup dengan kumis tebalnya, aku semakin yakin bibir itulah yang dulu pernah menyentuh hatiku. Entah mengapa kecewaku tak mampu kubayar lunas. Sampai wajah itu sudah menua, tetap saja ada rasa cinta terhadapnya. Apakah ini sebuah kebodohan atau kesejatian cinta.
           Sejak jauh dari kehidupanku, dia tak sehebat dulu, tak sepintar dulu, bahkan seringkali tidak hadir belajar di kelas. Pastilah prestasinya menurun. Sebenarnya aku ingin mengingatkan dia, memotivasi dia, tapi aku sadar aku sekarang bukan siapa-siapa. Goresan luka yang membekas terkadang membuat aku benci yang terlau, namun bila ingat kelembutan dan perhatiannya saat itu, aku tukar rasa benci itu menjadi sayang yang terlalu.
              Waktu terus berjalan, masa depan tidak berada di belakang. Kepingan-kepingan cintaku berhasil kukatupkan lagi menjadi utuh, walau tidak sempurna.
Sampai menemukan wajah yang semakin keras karakternya, rasa cinta itu berubah wujud menjadi empati, ingin bertemu dengannya itu pasti. Jika mengingat kisah itu sudah tak muncul rindu atau benci yang terlalu, tapi hanya ingin menjalin silaturrahmi  pertemanan saja. Aku menyadari bahwa cerita itu hanya masa lalu yang patut dikenang tapi tak patut diulang. Untuk sebuah nama yang sudah berhasil aku temukan gambarnya, semoga baik-baik saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sajak Beda Tema

Aku tak ingin bulan bundar bersinar Aku tak ingin hujan basahi peraduan Aku tak ingin nyaringnya melodi mendenting Yang ku ingin ibah...