Rabu, 14 September 2016

Dari Bahasa Jujur Terbitlah Bangsa yang Mujur


Oleh, Alfi Faridian, M.Pd.
Jujur. Satu kata yang sederhana namun begitu banyak energi yang kita perlukan untuk melakukannya. Kenapa demikian? Karena mungkin kita dengan sengaja atau tidak, merasa begitu susah untuk bersikap jujur. Kita tahu bahwa kejujuran itu bisa melukai atau menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Demikian pula pemakaian bahasa dengan jujur. Salah satu pendidikan karakter yang ditanamkan pada siswa adalah berbahasa dengan jujur . Hal ini dikarenakan berkomunikasi adalah bagian dasar dari sebuah kegiatan dalam kehidupan berbangsa. Untuk mencapai Bangsa yang mujur berawal dari berbahasa dengan jujur.
Pendahuluan
 Jujur merupakan bagian dari integritas kita sebagai manusia. Karena jujur terpaut dengan kebohongan. Keduanya tidak dapat dipisahkan walau tidak dapat disejajarkan, dalam arti lain orang jujur, pasti tidak bohong dan orang bohong, juga pasti tidak jujur. Kejujuran itu juga terkait dengan aturan. Aturan dibuat juga untuk penyelarasan. Bila dunia tanpa aturan, berarti dunia pun tidak selaras. Matahari itu selalu terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat. Itulah aturan Tuhan untuk matahari. Kita, manusia lahir, hidup, dan kemudian mati. Tidak ada manusia yang kekal dan tak akan mati. Karena tahapan-tahapan itulah, aturan- aturan itu dibuat dalam sebuah kehidupan manusia yang berbangsa. Demikian pula dalam berbahasa, baik tuturan lisan maupun bentuk tulisan, kejujuran juga sangat berperan. Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur: kejujuran, sopan-santun, dan menarik.
Untuk lebih kongkretnya bahasan artikel  ini, kita perhatikan ilustrasi berikut ,
Ilustrasi

             Seseorang yang senantiasa membuat lawan bicara tersinggung dan sakit hati ketika berkomunikasi disebabkan  sulitnya kita membedakan kalimat yang seharusnya digunakan untuk bergurau atau untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sangat serius. Ironisnya justru ia tidak merasa kalau telah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti hati lawan bicara. Jika dilakukan penelitian tentang opini publik, maka ia akan mendapat penilaian yang sangat jelek atau sama sekali tidak mendapatkan nilai.

Berdasarkan ilustrasi tersebut penulis terinspirasi bahwa pentingnya menggunakan bahasa yang jujur agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi, baik tingkat masyarakat kecil (siswa di sekolah) ataupun kehidupan berbangsa. Apabila seluruh warga di sebuah bangsa bertutur dengan bahasa yang jujur maka terciptalah sebuah bangsa yang berkualitas.


1. Kejujuran dalam Berbahasa
Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tidak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit, adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Pembicara atau penulis tidak menyampaikan isi pikirannya secara terus terang,  seolah-olah ia menyembunyikan pikirannya di balik rangkaian kata-kata yang kabur dan kalimat yang berbelit-belit tak menentu. Ia mengelabui pendengar atau pembaca dengan menggunakan kata-kata yang kabur dan “hebat” hanya agar bisa tampak lebih intelek.
Di pihak lain, pemakaian bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yang dikatakannya. Ia mencoba menyembunyikan kekurangannya di balik tubian kata-kata hampa.Bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul. Oleh karena itu bahasa harus digunakan secara tepat dengan memperhatikan sendi kejujuran.
2. Sendi Gaya Bahasa adalah Sopan-Santun
Yang dimaksud dengan sopan-santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghormatan melalui kata-kata, atau mempergunakan kata-kata yang manis, atau berbasa-basi. Bukan itu! Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan keefektifan. Mengatakan atau menulis sesuatu  secara jelas tidak membuat pembaca memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis. Kejelasan sering jauh lebih efektif daripada jalinan kalimat yang berliku-liku. Kejelasan dapat dicapai melalui usaha untuk menggunakan kata-kata secara efisien, menghindari pengulangan kata berlebihan yang tidak diperlukan.
3. Bahasa yang Baik dan Benar: Menarik, Baku Tidak Berarti Harus Kaku.
Kejujuran, kejelasan, dan keefektifan merupakan langkah dasar dan langkah awal dalam berkomunikasi. Namun bila gaya bahasa hanya mengandalkan ketiga hal tersebut, maka bahasa yang digunakan masih terasa tawar, tidak menarik. Karena itu, dalam berkomunikasi harus pula menarik. Menulis dalam gaya bahasa yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen, diantaranya, variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup atau vitalitas, penuh daya khayal atau imajinasi. Untuk itu, pengguna bahasa yang baik harus memiliki kekayaan dalam kosa kata, kemauan mengubah panjang-pendeknya kalimat, dan struktur-struktur morfologi
Bahasa menunjukkan Bangsa
      Jika sebuah bahasa menandai suatu bangsa dan adanya bahasa karena bangsa itu memakainya,  antara bangsa dan bahasa itu terdapat hubungan yang saling menentukan.  Pernyataan itu cocok untuk, misalnya, bangsa Cina dengan bahasa Cina, bangsa Jepang dengan bahasa Jepang, bangsa Inggris dengan bahasa Inggris, bangsa Prancis dengan bahasa Prancis, atau bangsa Jerman dengan bahasa Jerman.
 Menurut antropologi, pengertian bangsa adalah pengelompokan manusia yang keterikatannya dikarenakan adanya kesamaan fisik, bahasa, dan keyakinan. Jika ditinjau secara politis, bangsa adalah pengelompokan manusia yang keterikatannya dikarenakan adanya kesamaan nasib dan tujuan. Di samping itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa bangsa adalah orang-orang yang memiliki kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah serta berpemerintahan sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa bangsa adalah kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa serta wilayah tertentu di muka bumi.
Dari uraian di atas dapat dipetik intisari bahwa bahasa erat hubungannya dengan bangsa. Penggunanan bahasa yang jujur  menentukan bangsa yang berkualitas. Demikian pula yang terdapat pada pantun berikut,
Yang kurik kendi,
            Yang merah saga;
Yang baik budi,
            Yang indah bahasa.
Dilihat dari makna pantun tersebut adalah orang yang baik perangainya bisa dilihat dari tutur kata yang digunakan . Oleh karena itu kebiasaan berkomunikasi atau berbahasa dengan jujur harus ditanamkan dalam diri siswa. Apabila siswa sudah terbiasa berbahasa dengan baik dan jujur maka implementasinya pada kegiatan-kegiatan yang lain akan baik dan jujur pula. Hingga tercapailah pendidikan karakter untuk bersikap jujur dalam perilaku apapun.

Rasulullah SAW berkata singkat kepada salah satu sahabat, “Jangan berbohong” (HR Muslim). Kalimat singkat, tetapi bernas ini mengandung nilai edukasi yang tinggi, yaitu pendidikan kejujuran. Mendidik manusia supaya berperilaku jujur merupakan esensi pendidikan, sedangkan esensi pendidikan kejujuran adalah keteladanan yang baik dan benar.

Orang yang jujur, secara psikologis hatinya akan selalu merasa tenteram, damai, dan bahagia. Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang, dikejar-kejar oleh “pemberontakan” hati kecilnya yang selalu menyuarakan kebenaran. Dia selalu merasa khawatir kebohongannya itu terbongkar. Pendidikan kejujuran harus dimulai dengan jujur kepada diri sendiri dengan senantiasa meminta “fatwa kebenaran” yang bersumber dari hati nurani. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga.
 Pendidikan kejujuran dapat terwujud manakala kita selalu belajar menjalani kehidupan ini dengan lima hal, yaitu iman, ikhlas, ihsan, ilmu, dan istiqamah. Dengan iman, kita yakin Allah pasti mengawasi dan mencatat seluruh amal perbuatan kita. Dengan ikhlas, kita belajar untuk melakukan sesuatu dengan mengharapkan ridla Allah. Dengan ihsan, kita akan berbuat yang terbaik untuk orang lain. Dengan ilmu, kita tahu perbuatan halal dan haram. Dan, dengan istiqamah, kita belajar mengawal kebaikan dan kebenaran yang sudah dibiasakannya menjadi lebih baik dan lebih diridai Allah SWT.


Pada akhirnya kita sampai pada sebuah simpulan bahwa berbahasa dengan jujur langkah awal memulai hidup penuh kejujuran. Hidup jujur  akan membersihkan hal-hal yang merusak bangsa. Pendidikan  yang jujur melahirkan generasi yang jujur. Generasi yang jujur ,tercipta masyarakat makmur. Tak salah ada ungkapan dengan bahasa jujur, negara mujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sajak Beda Tema

Aku tak ingin bulan bundar bersinar Aku tak ingin hujan basahi peraduan Aku tak ingin nyaringnya melodi mendenting Yang ku ingin ibah...