Rabu, 14 September 2016

Sepatuku Bukan Sepatu Biasa


Aku terus menunggu waktu,,sejak undangan itu sampai di tanganku. Alhamdulillah,,berkali-kali puji syukur itu keluar dari bibirku. Ehm…ternyata tak terasa sudah cukup lama aku mengabdikan diri jadi ibu guru di sekolah yang tergolong mewah di lingkungan daerahku. Ya…SMA Bina Nusa 2. Lima belas tahun bukan waktu sebentar untuk bercanda, berbagi ilmu, bahkan terkadang mendengar tangisan anak-anak bangsa dengan berbagai permasalahannya. Asyik, senang, dan berkesan. “Ori menikah” gumamku dalam hati.
Assalaamualaikum ibu,,, sapaan  dari balik punggung itu mengagetkan aku, sepertinya aku pernah mengenal suara itu. Waalaikumsalam,,,seraya aku berbalik ingin segera melihat yang mempunyai suara itu, tak lain itu suara Citra…muridku yang paling bawel, pintar berargumen, cantik, centil, sekarang penampilannya berubah 180 derajat menjadi sosok perempuan lembut dan keibuan. Di sela-sela para undangan pesta pernikahan Ori, riuh, suka cita, sayup-sayup lagu bersenandung menambah meriah suasana pesta itu. Kupeluk dia sembari dicium tangan ini sebagai ungkapan rasa rindu yang tak terperi.
“Apa kabar cantik?” sapaku sambil kulepas perlahan pelukannya, “Alhamdulillah, baik Ibu” suara dan gayanya masih Citra tujuh tahun yang lalu. “Pokoknya kita nggak salah Bu!” Citra cs membela diri ketika harus perang dingin dengan Uphit panggilan Puspita salah satu teman sekelasnya. “Dia sok!! Sok cantik!, sok gaya!, sok pinter!, padahal dia nggak ada apa-apanya dari kita”, tambah Ana yang satu genk dengan Citra. Citra, Ana, Ratri, Anggi, satu lagi Lidya, lima cewek jagoan di kelas SEPATU (sebelas ipa satu). Memang mereka jago berargumen, jago kimia, jago matematika, bahkan jago dalam menaklukkan teman laki-lakinya, di samping itu mereka juga jago bermain musik. ” Sudahlah,,apa sih, yang kalian ributkan?? Sambil kupegang  pundak mereka satu persatu, sebagai ibu wali di kelas itu aku berusaha mendamaikan perselisihan di antara mereka. Uphit hanya diam tak bisa berkata-kata karena takut akan kicauan Citra cs yang selalu memojokkannya. Aku tersenyum melihat perselisihan mereka. “Inilah proses pendewasaan buat mereka”, kataku dalam hati.  “ Ibu apa kabar?” Citra di hadapanku membuyarkan kenangan itu. Alhamdulillah, baik juga Citra, aku tersenyum bangga bahwa dia sekarang jadi ibu guru seperti aku. “ Buk ternyata jadi guru itu susah ya” balasnya untuk memulai pembicaraan. “Ah nggak juga sih, kalau kita ikhlas menjalani, kita nikmati akan lebih menyenangkan”, jawabku. Sesekali aku menoleh ke kanan, ke kiri, sambil mencari-cari para undangan barangkali ada yang kukenali lagi.
Ibuuuuk….Assalamualaikum,,Ira yang berbadan dua bersama suaminya, langsung menjabat tanganku sambil memeluk erat tubuh ini, tak ubahnya seperti yang dilakukan Citra terhadapku tadi. Akhhirnya kami bertiga hanyut bernostalgia mengenang kebersamaan SEPATU.
Tampak dari kejauhan begitu serasihnya Ori bersanding dengan pangeran pujaan hatinya. Ratu semalam, begitu anggun dengan balutan gaun sutera warna keemasan. Kesederhanaan panggung yang melatari bidan yang sedang berbahagia itu tak mengurangi kesakralan acara mereka. “Subhanallah”…..gumamku lirih,  mereka foto bersama di atas panggung,,berjajar dari sebelah kanan sosok mereka tak asing buatku. Say.. panggilan sang ketua kelas waktu itu, nama lengkapnya Sayfuddin, Fitroh pemain voli waktu itu,,ada Reza salah satu tim basket di sekolah, Nur Cholis,, yang pendiam tapi otaknya sangat cerdas, berikutnya ya..dia.. Anggara yang santun hingga banyak perempuan ingin jadi teman istimewanya, anggota band kebanggaan kelas yah…tak salah dia Hermawan. Berjajar sebelah kiri tampak perempuan-perempuan cantik nan anggun, ada Ana yang tomboy, Fitri yang bawel, Ratri yang keibuan, Anggita yang cerewet sedikit cuek.
 “Ibu tinggal tanda tangan saja di sini” ujar Anggara sambil menyodorkan kertas yang aku sendiri belum tahu apa isi dari kertas tersebut. Suara tegas nan berwibawa membuat aku semakin bingung.
   “Apa ini Anggara?” balasku sambil sekilas kulihat banyak tanda tangan dengan nama-nama yang tak asing buatku.
“Teman-teman sudah sepakat Ibu” tegasnya
“Sepakat apa?” aku semakin bingung
“Silahkan dibaca Bu” sambungnya.
Tak biasanya Anggara bersikap seperti ini, dia yang terkenal sebagai sosok siswa yang santun, tiba-tiba menghadangku sembari menyodori selembar kertas tanda protes kepada sekolah, karena ada satu guru yang dianggap kurang sesuai dalam menyampaikan ilmunya kepada teman sekelasnya, anehnya kertas itu sudah tertanda tangani seluruh siswa SEPATU. Segera kuajak dia duduk di sudut ruang guru.
                “Separah inikah” suara lirihku mengawali pembicaraan kta
                “Ya Bu,,,, teman-teman sudah tidak berkenan dengan pola mengajar beliau” tambahnya
“Kita coba cara lain ya” gumamku pelan supaya tidak terdengar oleh guru lain yang ada di ruang itu.
“Ibu kita kan sudah memberikan banyak toleransi kepada beliau”tegasnya lirih setengah berbisik.
“Iya siih…kita tunda dulu surat ini ya…” Pintaku
“Ibu, yang diajarkan Pak Sogi adalah  mata pelajaran inti, kita tidak bisa menunggu-nunggu, sebentar lagi ujian semester,,lantas bagaimana belajar kita Bu????” Belanya.
“Memang masalah ini sudah saya sampaikan ke pimpinan, Anggara,,bilang ke teman-teman tuk bersabar,” ujarku hingga aku hampir  tak bisa berkata-kata lagi.
“Ibu,, mohon ditanda tangani, nanti kita yang akan menyampaikan ke Pak Abdillah” pintanya.
“Ya sudah bawa sini suratnya, nanti Ibu tanda tangani  dan saya serahkan ke bapak kepala sekolah” kataku sambil menarik napas panjang.                Setengah berlari dia melesat dari ruangan membawa kabar gembira buat  teman sekelasnya.
Salam hormat Ibu Assalamualaikum,, sekilas kenangan tentang mereka,,tiba-tiba mereka sudah ada di depan mataku. Seolah-olah mereka menagih janji bagaimana kelanjutan surat protes tersebut. Aku tersenyum bangga sambil menjawab  salam  mereka, wajah-wajah yang semakin dewasa satu persatu kutatap sembari menjabat  tanganku pertanda hormatnya kepada sang bunda guru.” “Alhamdulillah….kita masih dipertemukan oleh Allah” kumulai suasana yang mengharukan itu.
“Bagaimana kabar kalian?” lanjutku
“Alhamdulillah baik bu, berkat doa ibu juga” jawab Anggara yang jago berargumen.
Tetap saja dia selalu yang mewakili ungkapan isi hati teman-temannya.
“Maaf kan kami Ibu, lama tak bersilaturrahmi ke rumah,,,? Lanjutnya
“Iya Bu…” yang lain menambahkan.
“Nggak apa-apa….yang penting kita selalu saling mendoakan,,” jawabku tersenyum.
“Ibu saya sudah kerja di perusahaan Listrik Negara…” Seru Fitro bangga.
“Ini Bu,,, sambil menunjuk ke pemuda tampan di sebelahnya yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum ,jadi polisi.” Tambahnya.
“Alhamdulillah…Nur Cholis,, “ Jawabku sambil menitikkan air mata bangga.
“Lantas?” Imbuhku sambil menunjuk yang lain.
“Saya bekerja di persahaan asing Bu, Saya sudah menyelesaikan Studi kedokteran Ibu, Saya melanjutkan pendidikan S2 Ibu, …” Satu persatu dia pantas membanggakan keberhasilannya kepada guru yang pernah menemani di bangku SMA yang penuh dengan kisah-kisah yang mengesankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sajak Beda Tema

Aku tak ingin bulan bundar bersinar Aku tak ingin hujan basahi peraduan Aku tak ingin nyaringnya melodi mendenting Yang ku ingin ibah...